Minggu, 05 Juni 2016

Tulisan softskill 3

Terapi Kelompok

Anggota Kelompok :
      1.      Bernadeth Adinda Hemas      (11513710)
      2.      Citra Febiarini                         (11513940)
      3.      Juanita Riry                             (14513707)
      4.      Muhammad Azhar                  (15513848)
      5.      Rama Dhyansah HN               (17513223)
      6.      Rika Hidayah                          (17513694)
      7.      Tristanty Rahayu                     (18513998)

Rama, 21 tahun seorang mahasiswa pecandu alkohol sejak duduk di bangku SMA. Awalnya, Rama meminum alkohol seminggu sekali. Tetapi semenjak orang tuanya meninggal karena kecelakaan frekuensi minum alkoholnya meningkat dan dalam beberapa tahun terakhir berubah menjadi pola penyalahgunaan alkohol yang parah.
Ia mengawali hari dengan minum alkohol dimulai dari pagi hari, dan ketika siang Rama berada kedalam kondisi mabuk total. Ia jarang teringat tentang berbagai hal yang terjadi pada siang hari. Selain peminum, Rama juga mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya (adegan Rama mabuk).
Pada suatu hari kerabat dekatnya datang kerumah, melihat Rama sedang mabuk berat.
Kerabat           : assalamu...(sambil masuk kedalam kamarnya Rama dan melihat Rama sudah tidak sadarkan diri) Rama lu kenapa? (teriak)
            Lalu kerabatnya membawa Rama ke Rumah Sakit. Setelah Rama sadar, kerabatnya bertanya kepada Rama.
Kerabat           : rama, tadi lo kenapa?
Rama               : gue dimana nih?
Kerabat           : lo dirumah sakit, tadi lo pingsan. Gue bawa aja ke rumah sakit, lo pasti mabuk lagi ya?
Rama               : iya nih, gue udah parah banget. Gue pengen berenti minum.
Kerabat           : iya, lo buat apa sih minum terus? Nggak ada gunanya! Cuma ngerusak badan doang! Lo mau berenti??
Rama               : mau lah...capek gue gini terus
Kerabat           : yaudah gini aja, gue ada kenalan. Siapa tau nanti dia bisa bantu. Nanti kalo lo udah keluar dari rumah sakit, gue anter lo ke dia.
Rama                 : oke, terima kasih ya
            Setelah sekian hari Rama pun keluar dari rumah sakit, kemudian kerabatnya menjemput Rama di rumah sakit.
Kerabat                       : gimana, udah baikan?
Rama                           : alhamdulillah, udah mendingan..
Kerabat                       : syukur deh, jadikan kita ketemu kenalan gue itu?
Rama                           : oke, ayo kita jalan sekarang..
            Berangkatlah mereka bertemu dengan kenalan kerabat Rama itu
Kerabat                       : selamat pagi (sambil salaman dengan psikolog nya)
Psikolog                      : selamat pagi, selamat datang. Gimana kabarnya? Sudah lama ya nggak ketemu
Kerabat                       : baik, iya nih udah lama ya kita nggak ketemu (sambil tersenyum)
Psikolog                      : hehe iyaaa, ada perlu apa datang menemuiku?
Kerabat                       : nih kenalin, temen saya Rama. Sebenarnya tujuan saya kesini ingin membantu permasalahan yang sedang dialami Rama. Rama kecanduan alkohol. (lalu lanjut menceritakan asal mula Rama kecanduan alkohol).
Psikolog                      : ohh gitu ceritanya, kebetulan disini ada terapi yang permasalahannya sama dengan yang dialami Rama.
Kerabat                       : waah, kebetulan sekali. Bagaimana kalau Rama ikut terapi disini bersama dengan kamu?
Psikolog                      : baik, mari kita atur jadwalnya.
Setelah dibicarakan, lalu Rama pun mengikuti terapi yang dianjurkan psikolog tersebut.
Psikolog                      : selamat pagi semua. Bagaimana kabarnya hari ini?
Seluruh anggota          : baik (dengan semangat)
Psikolog                      :  pada hari ini, kita kedatangan anggota baru. Coba silahkan perkenalkan diri kamu.
Rama                           : gue Rama, umur gue 21 tahun. gue tinggal di Bekasi
Psikolog                      : ada masalah apa Rama?
Rama                           : gue Cuma pengen berenti mabok..
Psikolog                      : gimana teman-teman yang lain? Ada yang bisa bantu Rama?
Anggota 1                     : saya Citra, saya mengikuti terapi disini sejak satu tahun yang lalu. Dulu saya juga kecanduan alkohol banget. Saya jadi pemabuk karena sakit hati ditinggal nikah. Tadinya saya pemabuk berat, tapi setelah saya pikir untuk apa seperti ini terus? Karena saya sadar jadi pemabuk tidak akan membuat dia kembali pada saya. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti jadi pemabuk dengan mengikuti terapi disini. Saya mendapatkan pelajaran dari para anggota sebelumnya. Menurut saya kalau berhenti sekaligus sulit, karena dulu saya mendapat pelajaran dari anggota sebelumnya, saya mengurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya saya berhenti. Kamu juga harus mencobanya! Mungkin dengan cara itu kamu bisa menjadi lebih baik.
 Psikolog                       : terima kasih atas sarannya dari Citra. Mungkin ada yang lain yang bisa menceritakan pengalamannya?
Anggota 2                     : saya Tanty, umur saya 20 tahun. dulu saya juga sama seperti Citra peminum yang addict. Saya peminum karena saya depresi, saya terlahir dari keluarga yang tidak harmonis. Saya mendapatkan saran dari anggota sebelumnya juga untuk mencoba menjadikan rasa alkohol menjadi lebih pahit yang membuat rasanya menjadi nggak enak. Dan akhirnya saya mencoba saran itu dan ternyata cocok. Dan saya berhasil menguranginya saat ini
Psikolog                        : terimakasih atas sarannya dari Tanty. Ada yang lain? Yang mau berbagi pengalamannya?
Anggota 3                     : saya Riry, umur 21 tahun. saya ada sedikit cerita tentang kehidupan saya, dan kenapa saya berada disini. Ya yang pada intinya masalah kita sama. Awalnya karena pergaulan saya sering kumpul dengan orang-orang pemabuk juga. Ering kali saya di paksa untuk mencoba minuman beralkohol itu. Samapi akhirnya yang tadinya dipaksa menjadi terbiasa bahkan pecandu. Sama seperti yang lain, dan ada satu kejadian yang membuat saya sadar dan sehingga berhenti jadi pemabuk. Saya memaksa diri saya sendiri agar berhenti dengan cara saya menghindar dari lingkungan pemabuk itu, dan kedua saya mencari cara bagaimana agar saya tidak melakukan itu lagi. Awalnya sulit untuk melakukan itu, sehingga saya putuskan untuk berhijab dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap rasa ingin meminum lagi, saya selalu ingat Tuhan dan saya merasa malu untuk melakukannya lagi. Dan sampai sekarang saya berhenti.
           Setelah terapi itu berakhir, akhirnya Rama berpikir dari saran yang telah diberikan pada dirinya. Dan Rama mempraktikannya dan mencari cara yang cocok dan sesuai dengan dirinya.

           Setelah beberapa kali pertemuan terapi itu dilakukan, Rama mulai bisa mengurangi kecanduan alkohol tersebut sampai akhirnya berhenti jadi pecandu.

Tugas Softskill 3

Anggota Kelompok :
        1.      Bernadeth Adinda Hemas      (11513710)
        2.      Citra Febiarini                         (11513940)
        3.      Juanita Riry                             (14513707)
        4.      Muhammad Azhar                  (15513848)
       5.      Rama Dhyansah HN               (17513223)
       6.      Rika Hidayah                          (17513694)
       7.      Tristanty Rahayu                     (18513998)

Kelas   : 3PA14
A.    Rational Emotive Therapy
       1.      Pengertian
Terapi Emotif Rasional adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan yang tidak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.
         2.      Tujuan Rational Emotive Therapy
Untuk meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik. Terapi ini mendorong suatu revaluasi filosofis dan ideologis berlandaskan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis. Terapi Emotif Rasional tidak diarahkan semata-mata pada penghapusan gejala, tetapi untuk mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar.
3.      Teknik-teknik yang digunakan dalam Rational Emotive Therapy (RET)
a.       Teknik Pengajaran
Dalam konseling rasional emotif konselor mengambil peranan lebih aktif dari klien. Maka dari itu teknik pengajaran disini memberikan keleluasaan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatau kepada klien, teruatama menunjukkan bagaimana ketidaklogisan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosional kepada klien.
b.      Teknik Konfrontasi
Dalam teknik konfrontasi ini, konselor menyerang ketidaklogisan berfikir klien dan membawa klien kearah berfikir logis empiris.
c.       Teknik Persuasif
Teknik persuasif, yaitu meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya, karena pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba meyakinkan dan mengemukakan berbagai argumentasi untuk memunjukkan apa yang diannggap oleh klien benar tidak bisa diterima atau tidak benar.
d.      Teknik pemberian tugas
Dalam teknik ini konseor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Teknik ini bisa dilakukan dengan menugaskan kepada klien untuk bergaul kepada anggota masyarakat kalau mereka merasa dikucilkan dalam pergaulan, membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan cara berfikirnya



B.     PSIKOTERAPI TERAPI PERILAKU (BEHAVIOUR THERAPY)
       1.      Pengertian
Terapi perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory) yang bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety disorders, phobias, dengan memakai tehnik yang didisain menguatkan kembali perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.  
2.      Bentuk bentuk terapi Perilaku
a.       Sistematis Desensitisasi, 
Jenis terapi perilaku yang digunakan dalam bidang psikologi untuk membantu secara efektif mengatasi fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Dalam metode ini, pertama-tama klien diajarkan keterampilan relaksasi untuk mengontrol rasa takut dan kecemasan untuk fobia spesifik. Klien dianjurkan menggunakannya untuk bereaksi terhadap situasi dan kondisi sedang ketakutan. Tujuan dari proses ini adalah bahwa seorang individu akan belajar untuk menghadapi dan mengatasi phobianya, yang kemudian mampu mengatasi rasa takut dalam phobianya.
Fobia spesifik merupakan salah satu gangguan mental yang menggunakan proses desensitisasi sistematis. Ketika individu memiliki ketakutan irasional dari sebuah objek, seperti ketinggian, anjing, ular, mereka cenderung untuk menghindarinya.
b.      Exposure and Response Prevention (ERP),  
untuk berbagai gangguan kecemasan, terutama gangguan Obsessive Compulsive. Metode ini berhasil bila efek terapeutik yang dicapai ketika subjek menghadapirespons dan menghentikan pelarian. Metodenya dengan memaparkan pasien pada situasi dengan harapan muncul kemampuan menghadapi respon (coping) yang akan mengurangi mengurangi tingkat kecemasannya.  Sehingga pasien bisa belajar dengan menciptakan coping strategy terhadap keadaan yang bisa menyebabkan kecemasan perasaan dan pikiran.  Coping strategy ini dipakai untuk mengontrol situasi, diri sendiri dan yang lainnya untuk mencegah timbulnya kecemasan.
c.       Modifikasi perilaku
Menggunakan teknik perubahan perilaku yang empiris untuk memperbaiki perilaku, seperti mengubah perilaku individu dan reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan positif dan negatif.
d.      Flooding
Teknik psikoterapi yang digunakan untuk mengobati fobia. Ini bekerja dengan mengekspos pasien pada keadaan yang menakutkan mereka. 

C.    TERAPI KELOMPOK
            1.      Pengertian
Konsep terapi kelompok (Group Psychotherapy) menurut Shertzer dan Stone adalah aplikasi prinsip-prinsip terapeutik ke dalam dua atau lebih individu secara bersamaan untuk mengklarifikasi konflik psikologis individu sehingga individu dapat hidup secara normal.
Terapi kelompok adalah modalitas pengobatan yang melibatkan sekelompok kecil anggota dan satu atau lebih therapistis dengan pelatihan khusus dalam terapi kelompok.
            2.      Terapi kelompok digunakan dalam :
a)      Pengobatan terhadap gangguan yang gagal ketika terapi individual.
b)      Keterbukaan pada dunia sosial
c)      Penerimaan diri seseorang
d)     Dukungan terhadap orang lain.
e)      Bentuk-bentuk Terapi Kelompok
Terapi kelompok terdiri atas beberapa bentuk, sebagian besar berasal dari tiga jenis terapi individual yaitu: kelompok eksplorasi interpersonal. Kelompok bimbingan-inspirasi dan terapi berorientasi psikoanalitik.
a.       Kelompok Eksplorasi Interpersonal
Tujuannya adalah mengembangkan kesadaran diri tentang gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari anggota kelompok yang lain. Pasien diterima dan didukung oleh kerena itu, utuk meningkatkan harga diri, tipe ini yang paling umum dilakukan.
b.      Kelompok Bimbingan-Inspirasi
Kelompok yang sangat terstruktur, mendukung, dan memaksimalkan nilai diskusi di dalam kelompok dan persahabatan. Kelompoknya mungkin saja besar, anggota kelompok dipilih sering kali kerena individu mempunyai problem yang sama.
c.       Terapi Berorientasi Psikoanalitik
Suatu teknik kelompok dengan struktur yang longgar, terapis melakukan interprestasi tentang konflik yang  disadari  pasien dan memprosesnya dari observasi interaksi antar anggota kelompok.

Sumber :



Minggu, 17 April 2016

TULISAN 2 - Contoh Kasus Terapi teori humanistik eksistensial

Contoh kasus :
Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai dokter masa depan, tetapi  nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah rata-rata. Perbedaan antara dengan apa Leon melihat dirinya (konsep diri) atau bagaimana ia ingin melihat dia (ideal konsep diri) dan realitas kinerja akademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi. Leon harus melihat bahwa ada masalah atau tidak pada dirinya. Leon pesimis untuk menghadapai penyesuaian psikologis untuk mengeksplorasi perubahan dirinya. Konseling berlangsung, klien dapat mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan perasaan (Rogers, 1967). Mereka dapat mengekspresikan ketakutan mereka, rasa bersalah kecemasan, malu, kebencian, kemarahan, dan lain sebagainya. emosi telah dianggap terlalu negatif untuk menerima dan memasukkan ke dalam diri mereka. Dengan terapi, orang disortir kurang dan pindah ke penerimaan yang lebih besar dan integrasi perasaan yang saling bertentangan dan membingungkan. Mereka semakin menemukan aspek dalam diri mereka yang telah disimpan tersembunyi.
Sebagai klien merasa dimengerti dan diterima, mereka menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman mereka. Karena mereka merasa lebih aman dan kurang rentan, mereka menjadi lebih realistis, menganggap orang lain dengan akurasi yang lebih besar, dan menjadi lebih mampu untuk memahami dan menerima orang lain. Individu dalam terapi datang untuk menghargai diri mereka lebih seperti mereka, dan perilaku mereka menunjukkan lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas. Mereka menjadi kurang peduli tentang memenuhi harapan orang lain, dan dengan demikian mulai berperilaku dengan cara yang lebih benar untuk diri mereka sendiri. Mereka bergerak ke arah yang lebih berhubungan dengan apa yang mereka alami pada saat ini, kurang terikat oleh masa lalu, kurang ditentukan, lebih bebas untuk membuat keputusan, dan semakin percaya diri masuk untuk mengelola kehidupan mereka sendiri.
Dari contoh kasus Leon dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan klien mencari terapi adalah perasaan tidak percaya diri, dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif mengarahkan hidup mereka sendiri. Leon diarahkan supaya melihat kepotensian diri dia yang sebenarnya, terapi difokuskan ke saat yang sekarang agar Leon dapat melanjtukan hidupnya.

Dari contoh kasus tersebut inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapi yang kapasitas untuk sadar akan dirinya, meningkatkan kesadaran diri yang memotivasi atau mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup individu itu (Baldwin, 1987).

TUGAS 2 Softskill-Psikometri

·         Terapi Humanistik Eksistensialis
        1.      Konsep dasar pandangan humanistik eksistensialis tentang perilaku/ kepribadian
Dasar dari terapi humanistik eksistensial adalah penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya. Teori humanistik eksistensial berfokus pada diri manusia. Pendekatan humanistik eksistensial merupakan suatu pendekatan yang berusaha mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, yakni memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi.
Terapis humanistik eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Terapi humanistik eksistensial menekankan kondisi-kondisi inti manusia dan menekankan kesadaran diri sebelum bertindak. Kesadaran diri berkembang sejak seseorang masih bayi. Perkembangan kepribadian yang normal berlandasankan keunikan masing-masing individu.
        2.      Unsur-unsur  terapi
1)      Munculnya gangguan
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan.
2)      Tujuan Terapi
·         Membantu individu menemukan nilai, makna, dan tujuan hidup manusia sendiri.
·         Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan.
3)       Peran Terapis
·         Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
·         Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
·         Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
·         Berorientasi pada pertumbuhan

        3.      Teknik-teknik terapi
Teori humanistik eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya, seperti teori Gestalt dan Analisis Transaksional. Tugas konselor disini adalah menyadarkan konseling bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila ia bisa memaknainya.

·         Person Centered Therapy (Rogers)
         1.      Konsep dasar pandangan Carl Rogers tentang perilaku/kepribadian
Pendekatan terapi person centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Terapi ini berfokus pada bagaimana membantu dan mengarahkan klien pada pengaktualisasian diri untuk dapat mengatasi permasalahannya dan mencapai kebahagiaan atau mengarahkan individu tersebut menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hakekat kecemasan.
Terapi ini cocok untuk orang-orang dengan masalah psikologis yang ada ketidakbahagiaan dalam dirinya, mereka biasanya akan mengalami masalah emosional dalam hubungan dikehidupannya, sehingga menjadi orang yang tidak berfungsi sepenuhnya. Contohnya orang-orang yang merasakan penolakan dan pengucilan dari yang lain, pengasingan yakni orang yang tidak memperoleh penghargaan secara positif dari orang lain, ketidakselarasan antara pengalaman dan self (tidak kongruensi), mengalami kecemasan yang ditunjukkan oleh ketidakkonsistenan mengenai konsep dirinya, defensive, dan berperilaku yang salah penyesuaiannya.
.
        2.      Unsur-unsur terapi
1)      Terapi berpusat pada person difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan lebih sempurna.
2)      Menekankan medan fenomenal klien. Medan fenomenal(fenomenal field) merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Klien tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman-pengalaman sebagaimana adanya.
3)      Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkan bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstrukstif dimana dampak psikoterapeutik terjadi karena hubungan terapis dan klien.
4)      Terapi ini tidak dilakukan dengan suatu sekumpulan teknik yang khusus. Tetapi pendekatan ini berfokus pada person sehingga terapis dan klien memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbuhan.
         3.      Teknik-teknik terapi
1)       Menerima. Terapis menerima pasien dengan respek tanpa menilai atau mengadilinya entah secara positif atau negatif. Dengan sikap ini terapis memberi kepercayaan sepenuhnya kepada kemampuan pasien untuk meningkatkan pemahaman dirinya dan perubahan yang positif.
2)      Keselarasan (congruence). Terapis dikatakan selaras dalam pengertian bahwa tidak ada kontradiksi antara apa yang dilakukannya dan apa yang dikatakannya.
3)      Pemahaman. Terapis mampu melihat pasien dalam cara empatik yang akurat. Dia memiliki pemahaman konotatif dan juga kognitif.
4)      Mampu mengkomunikasikan sifat-sifat khas ini. Terapis mampu mengkomunikasikan penerimaan, keselarasan dan pemahaman kepada pasien sedemikian rupa sehingga membuat perasaan-perasaan terapis jelas bagi pasien.
5)      Hubungan yang membawa akibat. Suatu hubungan yang bersifat mendukung (supportive relationship), yang aman dan bebas dari ancaman akan muncul dari teknik-teknik diatas.

·         Logoterapi (Frankl)
       1.      Konsep dasar pandangan Frankl tentang perilaku/ kepribadian
 Menurut Frankl logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:
a)          Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut.
b)         Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda dengan psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik (to pull) dan menawari (to offer) bukannya mendorong (to push). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.
c)          Makna Hidup (The Meaning Of Life)
Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).

         2.      Unsur-unsur terapi
Dalam logoterapi, konseling mampu mengalami secara subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses terapeutik, sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa dan kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasi. Memutuskan untuk menjalani terapi saja sering merupakan tindakan yang menakutkan. Konseling dalam terapi ini, terlibat dalam pembukaan pintu diri sendiri. Pengalaman sering menakutkan atau menyenangkan dan mendepresikan atau gabungan dari semua perasaan tersebut. Dengan membuka pintu yang tertutup, konseling  mampu melonggarkan belenggu deterministic yang telah menyebabkan dia terpenjara secara psikologis. Lambat laun konseling mulai sadar, apa dia tadinya dan siapa dia sekarang serta klien lebih mampu menetapkan masa depan macam apa yang diinginkannya. Melalui proses terapi, konseling bisa mengeksplorasi alternative-alternatif guna membuat pandangan-pandangan menjadi nyata.
Frankl menandaskan bahwa fungsi Konselor bukanlah menyampaikan kepada Konseling apa makna hidup yang harus diciptakannya, melainkan mengungkapkan bahwa Konseling bisa menemukan makna, bahkan juga dari penderitaan, karena penderitaan manusia bisa diubah menjadi prestasi melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi penderitaan itu.

       3.      Teknik-teknik terapi
1)      Persuasif
Salah satu teknik yang digunakan dalam logoterapi adalah teknik persuasif, yaitu membantu klien untuk mengambil sikap yang lebih konstruktif dalam menghadapi kesulitannya.
2)      Paradoxical-intention
Paradoxical intention pada dasarnya memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self-detachment) dan kemampuan mengambil sikap terhadap kondisi diri sendiri dan lingkungan.Paradoxical intention terutama cocok untuk pengobatan jangka pendek pasien fobia (ketakutan irrasional). Dengan teknik ini, konselor mengupayakan agar klien yang mengalami fobia mengubah sikap dari ‘takut’ menjadi ‘akrab’ dengan objek fobianya. Selain itu, teknik paradoxical intention sangat bermanfaat untuk menolong klien dengan obsesif kompulsif (tindakan yang terus-menerus dilakukan walaupun sadar hal itu tidak rasional). Dengan teknik paradoxical intention, mereka diajak untuk ‘berhenti melawan’, tetapi bahkan mencoba untuk ‘bercanda’ tentang gejala yang ada pada mereka, ternyata hasilnya adalah gejala tersebut akan berkurang dan menghilang. Klien diminta untuk berpikir atau membayangkan hal-hal yang tidak menyenangkan, menakutkan, atau memalukan baginya. Dengan cara ini klein mengembangkan kemampuan untuk melawan ketakutannya, seperti yang terdapat juga dalam terapi perilaku (behaviour therapy).
3)      De-reflection
Teknik logoterapi lain adalah “de-reflection”, yaitu memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self-transcendence) yang dimiliki setiap manusia dewasa. Setiap manusia dewasa memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak lagi memperhatikan kondisi yang tidak nyaman, tetapi mampu mengalihkan dan mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat. De-reflection tampaknya sangat bermanfaat dalam konseling bagi klien dengan  pre-okupasi somatik, gangguan tidur, dan beberapa gangguan seksual, seperti impotensi dan frigiditas



Daftar Pustaka :
Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang: IKIP Semarang Press
Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia